Rabu, 24 Oktober 2018

“ Satu Nama di Nadi-nadi Para Hamba “



Aku mencintai satu nama di nadi-nadi para hamba
Aku mencintai satu nama yang oleh-Nya nyawa-nyawa menyerah
Aku mencintai satu nama yang pada-Nya jiwa-jiwa menyembah
Raga-raga yang lelah tunduk pada satu nama yang sama
Padaku iman-iman melekat tanpa kata-kata
Aku bersaksi, diantara sekawan jantung, paru-paru, di bawah diafragma, bahwa tuanku seringkali berdusta.
Aku bersaing dengan logika menjadi kata-kata
Sayangnya, logika terlalu picik mengelabuhi kata-kata menjadi noda
Ujung-ujungnya aku yang salah
Aku yang disiksa para hamba ketika mereka terluka
Aku yang dihakimi mereka, ketika raga sudah berdosa
Logika?
Dia hanya berpikir sesuai teori
Tak peduli ketika jiwa-jiwa merintih
Aku yang perlu mengendalikan mereka yang introspeksi
Ayolah manusia, ikuti aku sekali saja
Teori logika terlalu egois mengendalikan kata-kata
Mulut yang dusta, aku yang dicap berdosa
Ayolah manusia,
Aku diciptakan Tuhan untuk menuntunmu pada alur yang sama
Pada jalananan yang cerah menuju Al-Jannah
Yang katanya mimpi para hamba seluruh semesta
Ayolah manusia,
Jangan biarkan neraka-neraka melahapmu karena kata-kata
Jangan biarkan kata-kata menguasai dirimu di lautan dusta
Gunakan logika sesuai perintahku
Meramu rasa cinta untuk satu nama di nadi-nadi para hamba.

Malang, 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar