Aku mencintai satu nama di nadi-nadi
para hamba
Aku mencintai satu nama yang oleh-Nya
nyawa-nyawa menyerah
Aku mencintai satu nama yang pada-Nya
jiwa-jiwa menyembah
Raga-raga yang lelah tunduk pada satu
nama yang sama
Padaku iman-iman melekat tanpa
kata-kata
Aku bersaksi, diantara sekawan jantung,
paru-paru, di bawah diafragma, bahwa tuanku seringkali berdusta.
Aku bersaing dengan logika menjadi
kata-kata
Sayangnya, logika terlalu picik mengelabuhi
kata-kata menjadi noda
Ujung-ujungnya aku yang salah
Aku yang disiksa para hamba ketika
mereka terluka
Aku yang dihakimi mereka, ketika raga
sudah berdosa
Logika?
Dia hanya berpikir sesuai teori
Tak peduli ketika jiwa-jiwa merintih
Aku yang perlu mengendalikan mereka
yang introspeksi
Ayolah manusia, ikuti aku sekali saja
Teori logika terlalu egois
mengendalikan kata-kata
Mulut yang dusta, aku yang dicap
berdosa
Ayolah manusia,
Aku diciptakan Tuhan untuk menuntunmu
pada alur yang sama
Pada jalananan yang cerah menuju
Al-Jannah
Yang katanya mimpi para hamba seluruh
semesta
Ayolah manusia,
Jangan biarkan neraka-neraka melahapmu
karena kata-kata
Jangan biarkan kata-kata menguasai
dirimu di lautan dusta
Gunakan logika sesuai perintahku
Meramu rasa cinta untuk satu nama di
nadi-nadi para hamba.
Malang, 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar