Rabu, 13 Mei 2020

Martini

Belakangan ini Martini tampak kusut

Jabatan kembang desanya usai dicabut oleh usia

Martini pensiun

Dia membayar pesangon untuk dirinya sendiri,

dengan puing-puing penyesalan atas imannya, pada mitos yang mengakar dalam dirinya.

Martini telah tidur lama,

Bangun-bangun sudah menua.

Masa mudanya dipakai untuk menjumlah weton-weton setiap lelaki yang meminangnya.

Tiap malam berdzikir “Sandang, pangan, papan, loro, pati, sandang, pangan, papan, loro, pati, sandang, pangan, papan, loro, pati.” Sambil menghitung jari-jari tangannya.

Begitu terus berulang-ulang.

Sampai jam dindingnya bosan mendengar mantra Martini dari larut hingga pagi.

Puluhan lelaki ditolak atas imannya pada hasil perhitungan mantra-mantra itu.

O, Martini.

Sekarang dia mengutuk dirinya sendiri.

 

Malang, Agustus 2019.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar