Belakangan ini Martini tampak kusut
Jabatan kembang desanya usai dicabut oleh usia
Martini pensiun
Dia membayar pesangon untuk dirinya sendiri,
dengan puing-puing penyesalan atas imannya, pada mitos yang
mengakar dalam dirinya.
Martini telah tidur lama,
Bangun-bangun sudah menua.
Masa mudanya dipakai untuk menjumlah weton-weton setiap
lelaki yang meminangnya.
Tiap malam berdzikir “Sandang,
pangan, papan, loro, pati, sandang, pangan, papan, loro, pati, sandang, pangan,
papan, loro, pati.” Sambil menghitung jari-jari tangannya.
Begitu terus berulang-ulang.
Sampai jam dindingnya bosan mendengar mantra Martini dari
larut hingga pagi.
Puluhan lelaki ditolak atas imannya pada hasil perhitungan
mantra-mantra itu.
O, Martini.
Sekarang dia mengutuk dirinya sendiri.
Malang, Agustus 2019.
![]() |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar